Bang Asep, korwil bayarin, cerita sukses, agen ppob sukses

Bang Asep: Mantan Mafia Jadi Korwil Bayarin yang Sukses dan Kaya

By Bayarin I 16 Juli 2019 I

Muchfad Sefri atau akrab dipanggil Bang Asep adalah korwil (koordinator wilayah)l Bayarin asal Ciamis. Bang Asep lahir di Palembang tahun 1978. Sebagai mahasiswa di salah satu akademi swasta di Jogjakarta, Bang Asep dikenal sebagai pribadi yang supel dan mudah bergaul. Ia aktif mengikuti organisasi, salah satunya adalah komunitas Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Lulus kuliah, ia bekerja di Lion Air, Cengkareng. Lalu karena ada masalah internal di sana, ia pun berhenti bekerja pada awal Februari 2008.

Bang Asep memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Palembang dan meneruskan usaha keluarganya sebagai pengepul komodasi karet. Pekerjaannya adalah membuat perjanjian atau kontrak keapada pabrik-pabrik karet untuk memasok sejumlah karet dari para petani. Saat itu penghasilannya maksimalnya bisa mencapai Rp.25-50 juta per bulan. Dengan penghasilan tersebut ia bisa hidup enak, menikah dengan kekasih yang sudah lama ia pacari dan membeli rumah yang bagus dengan segala isinya.

Namun sayang, Asep yang masih muda dulu tidak mengutamakan prinsip kejujuran sehingga ia banyak melakukan praktik-praktik kelicikan di dunia pasar karet. Mulai dari menaikkan harga pasar di atas batas wajar hingga melebih-lebihkan timbangan. Target kelicikannya adalah pabrik karet. Dengan begitu, Asep pun akhirnya menjadi mafia dalam bisnis hitam ini.

Pepatah “roda selalu berputar” nampaknya bukan angin lewat saja. Sebab, hal ini dialami oleh Asep pada tahun 2016 dimana ia mengalami kebangkrutan yang parah. Saat itu harga anjlok, ditambah lagi kelicikannya selama ini akhirnya diketahui oleh pabrik dan dituntut. Alhasil, semua yang sudah ia peroleh selama delapan tahun termasuk rumah, kendaraan dan uangnya runtuh dan ludes dipakai membayar denda dan kompensasi kepada negara dan pabrik yang dirugikan demi menghindari dinginnya lantai penjara.

Dengan nama yang terlanjur jelek di daerah asalnya, akhirnya Asep sekeluarga memutuskan untuk pergi ke kampung halaman istrinya di Ciamis, Jawa Barat untuk memulai kehidupan baru. Setelah itu dia mencari pekerjaan bersih dengan membuka jaringan-jaringan lamanya lewat Facebook, termasuk menghubungi teman kuliahnya.

“Saya benar-benar mulai dari nol. Keluarga marah sama saya, untungnya istri saya sabar dan memaafkan saya. Saya benar-benar kacau dan menyesal. Tidak ingin saya ulangi saja. Ingin kerja jujur saja,” ujar Bang Asep yang kini genap berusia 43.

Beruntung niatan taubat Asep berbalas. Pada akhir tahun 2016, ia mencari pekerjaan dengan bertanya pada salah satu teman organisasinya di mapala yang kini bekerja di agen PPOB Bayarin. Mereka pun bertemu di Jakarta. Teman Bang Asep kemudian langsung menjabarkan apa itu PPOB, pola bisnis, cara bermain hingga profitnya. Namun Bang Asep tidak mengiyakan saat itu juga.

Berubah itu susah

Setelah berunding dengan keluarga, Asep memutuskan untuk terjun menjadi koordinator wilayah atau korwil Bayarin. Namun ia memutuskan untuk memberitahu temannya terlebih dahulu akan perbuatan kelamnya di masa lalu. Beruntung, terlpeas dari segala kejahatan yang sudah ia lakukan di masa lalu, pihak Bayarin tetap bersedia menerimanya asalkan ia benar-benar berniat dan mau berubah.

“Setelah saya pahami, pola bisnis PPOB ini sama seperti bisnis-bisnis sebelumnya. Bedanya, kali ini legal. Setelah dilatih beberapa lama, saya mulailah pekerjaan sebagai korwil Bayarin ini. Awalnya di daerah saya cuma dapat 4 loket saja. Keuntungan saya selama setengah bulan cuma 32 ribu. Engga semudah waktu bisnis karet yang dulu ada wadahnya, tinggal nerusin. Kalo ini kan bener-bener mulai dari nol,” ujar pria beranak tiga ini.

Sampai pada bulan berikutnya, CEO Bayarin menanyakan kesanggupan Asep untuk ditugaskan mengembangkan bisnis dan mencari loket ke daerah pinggiran Palembang. Awalnya Asep ragu untuk menginjakkan kaki kembali di Palembang, tapi ia berpikir keras bahwa kesempatan tidak akan datang dua kali. Akhirnya ia menyanggupi pekerjaan tersebut. DImulailah perjalanannya mencari loket-loket untuk bergabung bersama Bayarin selama dua bulan.

Bulan pertama ia hanya berhasil mengumpulkan 30 loket yang transaksinya masih sedikit sehingga komisi yang ia dapat hanya sebesar 2 juta per bulan. Di sana ia saban hari mengendari motornya berkeliling kampung demi kampung. Tiap ada warung/loket dengan produk PPOB, ia datangi secara nekat dan menawari mereka untuk bergabung bersama Bayarin. Ia tidak pernah mengenal malu, bahkan pada orang yang baru ia temui.

Asep bahkan pernah diusir dua kali oleh orang yang sama. Tapi ia tidak pantang menyerah menawarinya sampai orang tersebut melihat kesungguhan hati Asep dan malah jadi pihak yang meminta maaf. Sekarang, orang tersebut menjadi loket tetap yang loyal dengan Bayarin.

“Dulu si bapak ini (orang yang mengusirnya) trauma gitu soalnya dia pernah ditipu sama sales PPOB macam saya. Dia juga sudah masuk ke agen PPOB lain, tapi sayang pelayanannya buruk dan fee-nya cair di tengah bulan dan suka engga tepat waktu. Setelah tahu di Bayarin sistem pelayanannya diutamakan, dan fee-nya selalu tepat waktu di awal bulan, bapak ini mau pindah,” papar lulusan D3 tersebut.

Bang Asep selalu memosisikan dirinya sebagai pelayan bagi loket-loket miliknya. Ia selalu memegang prinsip “dimana ada celah, di situ harus kita isi”. Setelah itu barulah beri pelayanan terbaik kepada mereka.

Roda memang selalu berputar

Kini roda berputar lagi, tapi Bang Asep perlahan sudah berada di atas lagi. Dengan usaha jujurnya selama 3 tahun, kini ia bisa mengembalikannya penghasilan yang dulu selama menjadi mafia karet. Kini ia sudah menaungi ratusan loket di lebih dari lima daerah termasuk Ciamis, Kuningan, Solo, Priangan Timur,dan Sumbagsel. Bang Asep juga membina sub-sub korwil yang menjadi mantan mafia karet yang benar-benar ingin bertaubat sepertinya.

Ia juga sekarang sudah bisa membeli motor sendiri, mobil, menyenangkan anak dan istri dengan jalan-jalan ke luar kota dan tentunya membeli rumah. Ia juga tak perlu lagi merisaukan biaya pendidikan anaknya karena sudah jelas terjamin. Ia juga bisa menabung untuk jaga-jaga ada keperluan yang tidak terduga.

Bang Asep sangat bersyukur kepada Bayarin ia punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik dan membenahi hidupnya. Dan kepada para Mitra Bayarin, Bang Asep berpesan jangan pernah sekalipun mencari rezeki dari sesuatu yang haram. Sebab sekalipun untungnya besar dan perputaran uangnya bagus, tapi ‘uang haram’ itu uang panas yang akan selalu cepat habis. Kita juga tidak boleh lupa bersyukur karena kita tidak tahu kapan roda akan berputar lagi.

“Alhamdulillah banget.. di saaat semua orang membuang saya, memalingkan muka, Bayarin ada dan bersedia menampung saya, terlepas dari kejahatan yang saya lakukan. Saya juga merasa usaha gini jauh lebih berkah, tabungan saya banyak. Dulu meski saya banyak uang juga, susah banget kayaknya buat nabung. Tapi 20 juta belum cukup, saya pasti akan menanjak terus kejar target he he,” kekeh Bang Asep dengan raut muka bahagia.

Menarik banget kan cerita Bang Asep ini? Kamu tertarik juga engga nih buat maju dan besar bersama Bayarin? Yuk mulai sekarang gabung jadi korwil Bayarin dan jadi bagian dari keluarga kami juga. Rasakan jutaan keuntungan dan kebaikan dari Bayarin sekarang juga.

Share This Post

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Related Post