Chairul Tanjung, Biografi Chairul Tanjung

Cerita Chairul Tanjung, Dari Anak Singkong Hingga Jadi Milyarder Tersohor

By Bayarin I 30 Mei 2019 I

Chairul Tanjung, siapa sih yang tidak kenal dengan nama tersebut? Namanya sudah banyak berseliweran di televisi dan internet. Kalau belum tahu juga, kamu pasti tahu Trans TV, Trans 7 dan Trans Studio yang ada di Bandung sama Makassar kan? Itu loh Dufan versi dalam ruangan yang jadi destinasi favorit wisata keluarga.

Semua yang disebut tadi adalah beberapa dari banyak properti kepunyaan Chairul Tanjung alias CT. Chairul Tanjung dikenal sebagai orang terkaya ke-568 dan ke-7 di Indonesia tahun 2018 versi Majalah Forbes. Kekayaan bersihnya mencapai Rp.56,4 triliun.

Chairul Tanjung punya tiga perusahaan utama dari bidang media, layanan finansial, ritel, hingga properti dan sumber daya alam. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah Mega Corp, Trans Corp dan CT Global Resources yang di bawahnya masih memiliki banyak anak perusahaan.

Ia juga yang memegang izin waralaba (franchise) Wendy’s, dan barang-barang mewah seperti Versace, Mango dan Jimmy Choo di Indonesia. Jadi semua yang ingin membuka cabang merek-merek dagang tadi harus melalui Chairul Tanjung dulu.

Karena kecerdasannya dalam manajemen uang, pria kelahiran 16 Juni 1962 pernah ditunjuk jadi Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia saat masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhono. Ia menggantikan Hatta Rajasa yang saat itu naik jadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto dari 19 Mei 2014 hingga 27 Oktober 2014..

Jauh sebelum namanya melanglang-buana, anak dari enam saudara ini pernah mengecap pahitnya kehidupan dan dijuluki sebagai Anak Singkong alias anak kampung yang serba kekurangan karena ayahnya di-PHK.

Chairul Tanjung adalah anak dari wartawan bernama Abdul Ghafar Tanjung. Saat zaman Orde Baru, tulisannya dianggap berbahaya dan menentang penguasa. Akibatnya, mereka sekeluarga jadi bangkrut. Mereka terpaksa menjual rumah dan tinggal di satu kamar sempit di gang Batu Tulis (saat itu adalah area kumuh yang jadi simbol kemiskinan Jakarta).

Losmen sempit tersebut dipaksa untuk jadi tempat berteduh delapan orang. Rumah barunya tersebut bahkan tidak memiliki kamar mandi, sehingga mereka harus mandi di kali.

Beruntung, orang tua Chairul Tanjung mempunyai prinsip  “pendidikan itu adalah langkah yang harus ditempuh dengan segala daya dan upaya agar bisa keluar dari jerat kemiskinan”. Dengan bekal ini, mereka menyekolahkan CT hingga ke bangku kuliah.

Awal mula usaha si Anak Singkong

Pada 1981, Chairul Tanjung berhasil tembus ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI). Selama kuliah, ia dikenal sebagai mahasiswa yang baik sehingga ia berhasil mendapatkan gelar Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional periode 1984-1985.

Jiwa kewirausahaannya mulai muncul ketika ia di bangku kuliah. Kemampuan ekonomi keluarganya yang terbatas dan uang kuliah yang besar membuat dia berjualan modul pembelajaran, LKS, kaos hingga membuka fotokopi di kampus.

Kegagalan dan kebangkrutan sudah akrab dengan pria beranak dua ini. Pertama kali ia serius berbisnis, ia mencoba membuka toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen, Jakarta Pusat. Namun usaha tersebut akhirnya tutup karena bangkrut.

Dia juga pernah membuka usaha kontraktor, bekerja di perusahaan baja dan perusahaan rotan, tapi semuanya gagal. Setelah berkali-kali gagal, akhirnya Chairul Tanjung bersama tiga rekannya berhasil membangun bisnis baru di bidang ekspor sepatu anak. Nama perusahaannya adalah PT Pariarti Shindutama.

Bermodalkan 150 juta dari pinjaman bank, usahanya terbilang sukses. Bahkan puncaknya, perusahaannya tersebut mendapat 160 ribu pasang pesanan sepatu dari Italia.Namun karena ada perbedaan pandangan atara Chairul dan temannya, akhirnya Chairul memutuskan mundur dari bisnis tersebut dan membangun bisnisnya sendiri.

Chairul Tanjung, CT Corp

Berani ambil risiko

Karena Chairul Tanjung rendah hati dan tidak pernah pilih-pilih teman, dia berhasil membangun jaringan yang membuatnya berhasil mendirikan Para Group. Sekarang kita mengenal Para Group dengan nama CT Corp yang punya banyak anak perusahaan. Salah satunya adalah Transcorp (Trans TV dan Trans 7) yang jadi sumber kekayaan utama Chairul.

Namun tentu kesuksesan Trans TV dan Trans 7 sekarang tidak diperoleh secara instan. Dulu Chairul harus meminjam hingga 400 miliar ke bank untuk membuat Trans TV. Dan saat awal-awal mengudara, setiap bulannya Chairul Tanjung rata-rata rugi 30 miliar.

Trans TV pertama kali melakukan siaran uji coba pada Desember 2001. Durasi siarannya selama 12 jam, kemudian bertambah menjadi 20 jam. Trans TV mulai jaya pada 2008. Pada tahun yang sama, Chairul Tanjung mengambil alih TV7 milik Kompas dan mengganti namanya jadi Trans7 yang menyumbang triliunan rupiah ke kantong Chairul.

Kisah Chairul Tanjungyang menginspirasi banyak orang ini ditulis oleh mantan wartawan Kompas Tjahja Gunawan Diredja dalam buku berjudul Chairul Tanjung, Si Anak Singkong.

Dari Chairul kita bisa belajar bahwa hal besar beranjak dari hal-hal kecil. Dan untuk menjadi pengusaha sukses, kita harus mulai mengasah jiwa kewirausahaan kita sejak dini.

Jika dulu Chairul memulai bisnis penjualan LKS, dan fotokopi, mungkin kamu bisa mulai jadi agen PPOB di Bayarin. Modalnya minimal, untungnya maksimal. Daftarnya juga gratis kok.

Yuk, daftar sekarang!

Share This Post

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Related Post