Eka Tjipta Widjaja - Perjalanan orang terkaya kedua di Indonesia

By Bayarin I 4 Juli 2020 I

Eka Tjipta Widjaja adalah seorang pendiri grup Sinar Mas Grup. Beliau merupakan orang terkaya kedua di Indonesia. Sinar Mas Grup merupakan salah satu grup bisnis terbesar di Indonesia antara lain bergerak di berbagai sektor, antara lain agribisnis, makanan, komunikasi, teknologi, layanan keuangan, kesehatan, pertambangan, energi, properti, dan kertas. Beliau telah meninggal pada 26 Januari 2019 pada usia 98 tahun. 

Pria yang bernama asli Oei Ek Tjhong lahir di Quanzhou, China dan pindah ke Indonesia bersama keluarganya saat usianya menginjak 9 tahun. Lalu beliau dan keluarganya memilih tinggal di Makassar. Beliau diketahui melalui biografinya hanya lulusan sekolah dasar di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Ia mulai menjual biskuit pada usia 17 tahun. Eka Tjipta Widjaja tidak bisa menanjutkan pendidikannya dan harus mengorbankan pendidikannya demi membantu orang tua nya dalam menyelesaikan untang pada seorang rentenir.

Bisnis biskuit tersebut tidak bisa bertahan lama, karena adanya pajak yang besar yang dimana pada tahun tersebut Jepang masih menjajah Indonesia. Perlahan hutang – hutangnya pun mulai terbayar dan keluarganya mulai mempunyai tabungan. Dari tabungan tersebut Eka mulai berdagang minyak. Dia berlayar ke Pulau Selayar untuk memperoleh kopra, bahan dasar untuk bisnis minyaknya. Harga satu kaleng minyak kopra tersebut di Selayar bernilai 3 rupiah pada saat itu. Lalu Ia berharap bisa menjualnya seharga 5-6 rupiah di Makassar. Saat itu dia membawa 500 kaleng minyak namun ketika dibawa ke Makassar ternyata harganya jatuh dikarenakan tentara Jepang memaksa menjual murah seharga 1 rupiah. Dan beliau pun rugi besar saat itu.

Setelah itu Beliau mencoba menjual barang bekas Belanda. Tentara Jepang yang membuangnya semua dari gudang Belanda. Lalu beliau menjual barang – barang tersebut. Keuntungan yang didapat dari hasil penjualan barang terebut digunakannya untuk membuka peternakan, lalu peternakan itu dijual untuk membuat pabrik roti dan pada akhirnya dia melepaskan pabrik rotinya kepada adiknya. Pada bisnis grosir ini mempertemukan Eka dengan sorang perwira Corps Intendans Angkatan Darat. Pada tahun 1950 Kapten Surario membutuhkan teh, sirup, rokok, abon, dendeng, sabun, dan bawang putih untuk kesatuannya. Ia sudah mendatangi berbagai toko grosir di Makassar, tapi ditolak karena pembayarannta pakai sistem utang.

Eka menyatakan bahwa “Saya mempercayai tentara dan saya yakin merkea akan membayarnya”. Sejak saat itulah dia terus kerja memasok kebutuhan mereka. Kemudian Kapten Surario menjadi pemimpin perusahaan Belanda yang dinasionalisasi pada akhir 1950-an. Dengan mengenal Surario jaringan yang dimiliki Eka menjadi lebih luas. Ia memperkenaklan dengan perwira di Sulawesi dan Jawa. Banyak bantuan yang diberikan kedapa Eka seperti ketika kembali berbisnis kopranya ia boleh memakai kapal tentara untuk mengangkut kopra. 

Tetapi bisnis minyak kopra itu lagi – lagi memiliki masalah. Kali ini penyebabnya adalah keminculah tertara Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi. Tentara Permesta mengambil kopranya untuk kebutuhan tempur melawan ABRI. Eka terpaksa menjual rumah dan tanah untuk menutup kerugian dan utang-utangnya. Menurut Eka yang terpenting adalah jangan sampai bangkrut dan saya lari dari tanggung jawab. 

Pada zaman orde baru eka menagkap peluang dengan menanam investasi di bidang minyak kopra lagi pada 1969 melalui perusahan bernama Bimoli (Bitung Manado Oil). Nilai investasi awalnya 800 juta rupiah. Uang modal tersebut ia dapatkan dari kekuatan relasinya dengan tentara. Saat bangkrut dia menghubingi beberapa tentara di Surabaya yang biasa berada di perusahaan hasil nasionalisasi. Perusahaan tersebut bergerak di bidang hasil bumi dan impor tekstil.

Eka mendapatkan kepercayaan untuk menjual hasil bumi tersebut tanpa dibayar di muka. Eka memiliki strategy yang berbeda untuk menjual hasil buminya. Dia menjual hasil bumi lebih murah dari harga pasarannya seperti menjual jagung yang berharga pasaran 10 rupiah namun ia menjual seharga 9,5 rupiah sehingga yang dimana orang lain tidak berani untuk menjual dengan harga tersebut. Tetapi hasil dari penjualan tersebut ia gunakan untuk membeli bahan tekstil seharga 10 rupiah dan menjualnya seharga 20 rupiah.

Walau dia merugi 10% pada hasil bumi tetapi dia menghasilkan keuntungan 100% pada penjualan bahan tekstil. Dengan hasil penjualan tersebut Eka kumpulkan untuk mendirikan CV Sinarmas pada 1960-an. Lalu sinarmas berubah menjadi PT, berkembang luas ke berbagai bidang, dan mempekerjakan 380 rinbu orang. 

Semua orang sukses pernah berada di posisi paling bawah dalam kehidupannya. Oleh karena itu harus tetap percaya dan konsisten dalam usaha kita mau apapun bentuknya. Berada dalam posisi itu memang sulit. Namun dengan gigihnya kita dan selalu bekerja keras menjadikan kita harus terus berpikir untuk sukses. Jika anda ragu mau memulai usaha apa anda bisa mencoba bisnis pembayaran online yang saat ini sedang ramai. Anda bisa mendaftarkan diri anda di Bayarin.co.id dengan menjuak berbagai produk digital. Yuk daftar sekarang di link ini dan Download Sekarang!

Share This Post

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Related Post